PPDB Jalur Zonasi Jadi Celah Bisnis Sekolah Dibekasi

ANALISTIKnews||Kabupaten Bekasi_Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) adalah program yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbud) dengan tujuan memberikan layanan bagi anak usia sekolah/lulusan untuk memasuki satuan pendidikan yang lebih tinggi secara tertib, terarah, dan berkualitas.

Akan tetapi, proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) diduga malah dijadikan ajang bisnis bagi sebagian oknum disekolah.

Sebut saja Tie (nama samaran), tie adalah orang tua murid yang anaknya bersekolah di SMA N 1 Cikarang Barat Kabupaten Bekasi dan baru masuk tahun ini, dia menceritakan bahwasanya untuk anaknya dapat masuk kesekolah tersebut, harus membayar uang mencapai jutaan rupiah.

Dibayarnya sejumlah uang tersebut diakui tie, lantaran diawal anaknya tidak dapat masuk kesekolah itu dengan alasan tidak masuk jalur zonasi. Kemudian ada oknum yang menawarkan agar anaknya bisa masuk kesekolah tersebut, namun tie dipintai sejumlah uang padahal menurut tie lokasi rumahnya dengan sekolah tidak berjauhan, hal ini dilakukan tie karena ingin anaknya bersekolah di SMA Negeri 1 Cikarang Barat dengan alasan karena lokasi sekolah tidak berjauhan dengan rumahnya.

“Awalnya saya mendaftarkan anak saya sendiri melalui jalur rumah (zonasi) tapi ga dapet, kalau pakai jalur prestasi anak saya memang tidak berprestasi. Terus ada orang dalem dan saya dipintai Rp 4 juta rupiah, nego,… Nego,… Nego,… Akhirnya saya bayar Rp 3,7 juta rupiah” ungkapnya, Jumat 25 Agustus 2023.

Bukan hanya itu, tie pun menceritakan keluhannya, bahwasanya agar anaknya dapat bersekolah di SMA tersebut dia harus mengeluarkan kocek yang cukup lumayan besar, padahal sekolah tersebut adalah sekolah Negeri yang dianggapnya sekolah di Negeri itu bisa ringan biaya dan bahkan di pikirnya gratis, namun hal itu malah terjadi sebaliknya.

Menurut keterangan tie, untuk anaknya bisa masuk kesekolah itu dia harus membayar senilai Rp 3,7 juta rupiah, belum lagi harus membeli seragam sekolah dengan nilai yang cukup fantastis bahkan yang lebih bikin dia kesal, sekarang dia harus dituntut membayar sumbangan senilai Rp 2,5 juta rupiah.

“Kemarin anak saya bilang, ada pemberitahuan dari gurunya bahwa bulan ini saya diharuskan membayar senilai Rp 1 juta rupiah dulu, padahal kemarin hasil rapat disekolah dibilangnya boleh di cicil, masa sekarang saya harus bayar 1 juta” jelas tie seraya mengungkapkan kekesalan.

Pada saat dikonfirmasi pihak sekolah melalui humas, sampai saat ini tidak ada jawaban.

(Ifky)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *