Mafia Tanah Kembali Berulah

ANALISTIKnews||Kab Bekasi_Seiring Banyak bermunculannya kasus sengketa tanah di Indonesia, istilah mafia tanah menjadi frasa yang populer di kalangan masyarakat.

Dikutif dari kanal Media Unpad (KaMU), Pada acara Satu Jam Berbincang Ilmu (Sajabi) yang digelar secara virtual oleh Dewan profesor Uipersitas Padjadjaran (UNPAD) pada Sabtu tanggal 11/3/2023. Sebagai pembicara seorang Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Nia Kurniati, S.H., M.H, menjelaskan, Mafia tanah merupakan kejahatan pertanahan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang saling bekerja sama untuk memiliki ataupun menguasai tanah milik orang lain secara tidak sah atau melanggar hukum. Dan biasanya, para pelaku mafia tanah menggunakan cara-cara yang terencana, rapi, dan sistematis.

Ketersediaan tanah yang terbatas mengakibatkan tanah memiliki nilai ekonomi yang relatif tinggi dan menjadi salah satu objek perebutan bagi masyarakat.

Permasalahan ini kerap terjadi diBekasi belakangan ini, kurangnya pengetahuan serta keberanian untuk mempertahankan haknya, banyak masyarakat menjadi korban mafia Tanah.

Dok. bukti Kepemilikan Mito dan Karnita

Salah satu korbannya adalah Mito bin Sidin, warga Desa Sindangjaya Kecamatan Cabangbungin Kabupaten Bekasi.

Mito memiliki sebidang tanah darat dengan luas 2168m yang berlokasi di Desa Jayalaksana Kecamatan Cabangbungin, bukti kepemilikan lahan mito ditunjukkan dengan adanya surat Sertifikat Hak Milik (SHM) dengan nomor 02692 yang terbit pada tanggal 29/12/2021.

Kini Mito kehilangan sebagian haknya, karena diduga telah dikuasai pihak lain.

Keterangan ini diperkuat oleh salah seorang warga yang tinggal di Desa Jayalaksana berinisial (L), yang belakangan ini pernah diberikan kepercayaan oleh Mito untuk mengurusi lahannya.

Menurut L, diterangkan dalam Sertifikat Mito memiliki lahan seluas 2168m yang berlokasi di Desa Jayalaksana namun saat ini sebagian lahan tersebut dikuasai pihak lain.

“Di surat, Luas tanah Mito ada 2168m akan tetapi saat ini fisiknya hanya berkisar 1500 kurang lebih, sebab sebagian lahan tersebut diduga sudah dimiliki pihak lain, menurut informasi yang didapat, lahan tersebut sekarang diduga sedang digarap oleh pihak pengembang” ucapnya pada 20/05/2023 kemarin.

Pada umumnya, modus operasi yang dilakukan oleh mafia tanah adalah dengan melakukan pemalsuan dokumen dan melakukan kolusi dengan oknum aparat. Selain itu, mafia tanah juga bisa melakukan rekayasa perkara serta melakukan penipuan atau penggelapan hak suatu benda untuk merebut tanah milik orang lain.

Contoh-contoh cara kejahatan mafia tanah itu sendiri beragam, dari persoalan Surat menyurat yang membuat surat tanah menjadi tumpang tindih, penguasaan fisik dan bahkan menjual hak milik orang lain.

Tidak sampai disitu, permasalahan kehilangan lahan bukan hanya terjadi pada Mito, akan tetapi menimpa juga pada Karnita.

Saat ini karnita hanya dapat memandangi surat (SHM) miliknya, lokasi tanah yang tertulis dalam surat seluas 1297m dengan nomor SHM 01758, kini telah digarap pihak yang sama di duga adalah pihak pengembang Perumahan, padahal karnita belum pernah menjualnya.

(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *