Kisah Melati Dan Pangeran Citarum

ANALISTIK.COM_”Cincin itu saya buang, pas itu orang yang berpakaian seperti raja, yang sampe sekarang saya enggak tau namanya itu berhenti mengikuti saya. Sebelum dia pergi, dia ngomong sedikit, katanya kalau nanti saya punya anak-cucu nanti dia jaga dari kejauhan.” kurang lebih seperti itu tutur Mak Melati.

Sungai Citarum ternyata memiliki berjuta-juta misteri. Seorang kembang desa pernah mau dipersunting pangeran dari kerajaan alam ghaib dari sungai terpanjang di Jawa Barat itu. Peristiwa itu terjadi 40 tahun silam.

Melati tinggal di tepi Sungai Citarum. Kala itu ia berusia 21 tahun dan belum menikah. Parasnya yang cantik itulah yang membuatnya dijuluki bunga desa. Tak ada laki-laki yang tak suka dengannya. Wanita yang baik, rajin beribadah dan supel dalam pergaulan. Tutur katanya pun mempesona. Tak ayal banyak laki-laki yang patah hati ketika ia hilang tenggelam selama seminggu di sungai tersebut.

Sambil tersedu dan memeluk cucunya, wanita yang kini berusia 61 tahun itu menuturkan kisahnya. Kejadian itu membuat ia kini dikenal sebagai orang yang mampu mengobati berbagai penyakit, terutama orang yang dirundung patah hati. Dahulu, Sungai Citarum sangatlah lebar. Kira-kira lebarnya dua kali lipat dari saat ini. Air tak pernah meluap ke pemukiman meski laut sedang pasang. Sepanjang bibir sungai, mayoritas bangunan rumah penduduk yang sederhana menghiasi pedesaan kala itu. Ketika malam, tiap-tiap rumah yang belum dijamah listrik membuat warganya serentak menyalakan pelita dan ditempel di tiang-tiang rumah.

Mandi Cuci Kakus (MCK) masih mengandalkan sungai itu, maka tak heran ketika pagi dan sore penduduk sekitar ramai memenuhi keramba-keramba buatannya masing-masing. Melati tinggal bersama ibu dan adik-adiknya. Sementara sang ayah sejak ia kecil sudah meninggal. Sebagai anak sulung, Melati selalu membantu sang emak beberes rumah, mulai dari cuci pakaian, piring dan lain sebagainya di sungai. ……

Suatu ketika, malam Jumat Kliwon, Melati bermimpi didatangi seorang pria berpakaian bak orang kerajaan. Ia dijemput menggunakan kereta kuda yang berhenti tepat di depan rumahnya. Banyak sekali balad (pasukan) yang menjemputnya, sehingga ia tidak bisa berkata apa-apa. Hanya menjawab “Tidak, tidak dan tidak.” Dalam mimpinya, Melati berteriak menolak permintaan pria tersebut.

Atas mimpi itu, ia terheran-heran, namun ia tidak bercerita kepada siapapun, meski ibu dan adik-adiknya mendengar ia mengigau mengatakan dengan keras “Tidak, tidak, tidak.” Ia lebih memilih memendam mimpi aneh tersebut kepada orang serumahnya.

Esok harinya, Melati diperintahkan ibunya untuk mencuci piring selepas mindo (makan sore). Saat itu menjelang Maghrib. Ia sendiri berjalan menuju sungai tanpa penerangan. Lebar dan panjangnya sungai itu tampak menyeramkan, namun penduduk sekitar tidak takut karena sudah terbiasa, begitupun dengan sang gadis.

Sungai Citarum mata airnya dari Gunung Wayang, Kabupaten Bandung, dengan panjang kurang lebih 300 km. Itu baru panjang kira-kira yang dihitung menurut garis lurus. Padahal jika dilihat dari satelit, Sungai Citarum tampak meliuk-liuk bagaikan ular, sehingga bila bisa direntangkan, pasti akan lebih panjang lagi. Semua tidak ada yang menyangka akan terjadi bencana pada Melati menjelang malam itu. Api pelita di tiang-tiang rumah bergoyang seketika karena angin besar menerpa pedesaan bantaran sungai. Dalam ingatannya, ketika terpeleset di keramba buatan tetangganya, saat itu pun tangan Melati seperti ada yang menarik.

Kekuatannya sangat luar biasa, sehingga ia tidak bisa melepaskan pegangan itu. Tangan yang memegangnya sangat lembut teksturnya. Seperti berminyak, tapi sulit untuk dilepaskan. Ia melihat sekelilingnya gelap, tidak ada cahaya sedikitpun. Kata Melati keadaannya gulita seperti ketika ia memejamkan mata.

Dia sadar, bahwa setelah tangannya ada yang menarik, dia akan dibawa ke alam lain. Kala itu, tidak ada masalah sulit bernafas ataupun berenang. Yang ia rasakan tak ubahnya seperti di daratan saja dan sama sekali tidak terasa dia sedang berada di kedalaman air.

Sempat berhenti sesuatu yang menariknya itu. Penglihatannya sudah berfungsi kembali. Yang ia lihat di sekelilingnya adalah kerajaan yang sangat luar biasa besar dan indahnya. Tiang yang menyerupai candi menjulang, padang rumput hijau terbentang, banyak kuda-kuda, selir, dayang-dayang hingga orang-orang berpakaian prajurit sambil memegang tombak dilihatnya. Sesampainya ia di depan pintu kerajaan, ada beberapa dayang-dayang menjemput dan mengantarkannya ke kamar. Tidak ada perlawanan dari Melati. Yang ia lakukan hanya menuruti perintah dan tatakrama kerajaan. Pakaian yang ia kenakan diganti dengan pakaian putri kerajaan. Tidak ada rasa bingung,, lagi-lagi ia tidak bisa membantah yang menjadi keharusan dan adat kerajaan.

“Habis itu saya disuruh ganti baju, waktu itu kan saya di dalam air. Tapi enggak sesak nafas, enggak kelelep atau macem-macem deh.”

Saat berjalan menuju suatu ruangan, Melati terjatuh sambil menutup telinganya. Katanya, saat itu seperti ada yang memanggil, suara yang terdengar banyak orang yang memanggilnya. Karena tak kuat menahan sakit di telinganya, Melati juga sempat terjatuh dan menggelinding di tangga kerajaan hingga tak sadarkan diri. Mungkin saat itu juga banyak prajurit yang mengangkat dirinya dan membawa ia ke dalam kamarnya. Melati menyebutkan, dari selir hingga prajurit di situ berbicara dengan bahasa yang tidak beda dengan dirinya. Saat siuman, banyak orang yang mengelilinginya. Semakin aneh perasaan Melati, karena dirinya seperti sangat diistimewakan. Hingga ada pria tampan menuju tempat tidurnya, ia kaget dan terduduk.

Dia beranggapan, pria itu juga sangat diistimewakan dan sepertinya sebagai penguasa di situ. Karena saat ia berjalan menuju tempat tidurnya, semua orang yang mengelilinginya langsung memberi jalan. “Ia itu rajanya ternyata. Mukanya saya masih ingat banget, orangnya ganteng, cakep, gede tinggi dan kekar badannya,” ungkap Mak Melati.

Saat pria itu duduk di sampingnya, ia hanya memandang dan tak berucap apa-apa. Beribu-ribu pertanyaan di kepala Melati, kenapa ia diistimewakan dan dilayani seperti permaisuri di situ. Tak banyak bicara, pria itu duduk di sampingnya. Pangeran itu hanya memasukkan cincin di jari manisnya dan berucap agar dirinya bersiap untuk melangsungkan pernikahan dengannya tak lama lagi.

Melati kaget luar biasa. Seperti disambar petir siang bolong ketika sang pangeran atau raja itu mengatakan bahwa dirinya akan melangsungkan pernikahan dengannya.

Melati yang seperti dibungkam mulutnya tak bisa berucap apa-apa. Ia hanya terdiam hingga pria tampan itu pergi meninggalkan ruangan.

Ia tak berdaya. Ia tak bisa menggerakkan seluruh badannya. Hanya terbaring dan berkedip-kedip saja matanya. Hanya menangis yang ia bisa, karena ia tidak ingin menikah di usia muda, sekalipun dengan raja. Rindu tempat tinggal pun mulai menyerang Melati, canda adik dan perintah ibu terngiang di kepalanya. Menangis terus-menerus Melati, karena tak lama lagi ia akan melangsungkan pernikahan. Tak terbendung air matanya. Saat ia menjerit pun, pengawal hingga selir-selir yang sebelumnya melayaninya dengan baik juga tak kunjung datang.

Badan saya udah kaya diiket, tapi kelihatannya enggak diiket. Pengen gerak tapi enggak bisa. Semua lemes, kecuali mata, kedap-kedip aja,” paparan Mak Melati sambil mengeluarkan air mata dan terus memeluk cucunya.

Ia tidak bisa menjelaskan, saat ia berbaring di tempat tidur itu pukul berapa, siang hari atau malam. Tidak ada rasa kantuk dan ingin sesuatu layaknya manusia pada umumnya.

Terkejut Ati saat ada suara pintu terbuka. Rasa takut mulai menghujamnya. Meledak-ledak teriakannya, namun tak lantas empat dayang-dayang itu berhenti menghampirinya. Dayang-dayang terus mendekat dan duduk bersamaan di samping tempat ia berbaring. Lagi-lagi Melati tak dapat melawan dan hanya bisa menurut perintah. Pakaian yang dia kenakan sudah pakaian adat pernikahan. Melati berjalan dipapah oleh empat dayang-dayang. Tidak berucap sepatah kata pun, menangis hingga tersenyum sedikitpun di raut wajahnya saat ia berjalan di tangga kerajaan. Hanya sakit di kepalanya yang ia rasakan. Hanya suara banyak orang yang terus memanggil-manggil namanya yang ia dengar. Ia berpikir sepanjang jalannya, bahwa ia sedang berada di dalam bekapan lelembut Citarum.

Melati tak melihat satu orangpun berparas menyeramkan, semua bersahabat dengannya. Tidak ada kata kasar sekalipun yang keluar dari orang-orang di sekitarnya. Sesampainya ia di kursi pengantin kerajaan, rasa sakit kepalanya tidak terbendung dan kedua tangannya menutup telinganya, karena ia merasakan ribuan orang memanggil namanya. Dia berteriak sangat keras. Sebelum ia terjatuh, yang ia ingat pria tampan itu menghampirinya dan mencoba meraih tangannya.

Dari kejadian ia terjatuh itulah, ia tak dapat menceritakan kisahnya lagi. Karena begitu terbangun, ia sudah ada di rumahnya dan terbaring di atas kasur biliknya. Saat ia membuka mata, terlihat orang-orang yang mengelilingi dirinya sembari membacakan Al-Qur’an terkejut dan berteriak “Melati melek, Melati bangun, Melati udah sadar!” Ia merasakan badannya lemas tak bertenaga. Tubuhnya pun kurus, dan dilihatnya lengan yang sebelumnya mulus berisi, kini kurus bahkan besisik seperti orang yang kurang makan dan tak mampu merawat diri sendiri. Yang membuatnya lebih kaget adalah jarum infus tertanam di tangannya itu.

Pelukan sang ibu membuatnya sesak, air mata saudaranya juga pecah membuat dirinya juga ikut menangis tersedu.

“Neng, Alhamdulillah udah sadar neng. Alhamdulillah neng, emak kangen ama eneng.” tutur ibunda Melati sambil terus memeluk.

“Cerita neng, cerita. Bagaimana emang sebenernya neng.” ucap salah seorang di kerumunan itu.

Melati terlihat sangat kurus, kelopak matanya yang indah saat itu berubah menjadi hitam, bak orang yang tak pernah tidur. Kaki yang mulus, ketika itu sangat kecil dan belum bisa digerakkan. “Pas saya melek, yang saya rasakan cuma kepingin makan, minum. Udah itu aja,” kelakar Mak Melati mengenang kisahnya. Melati kaget saat di antara saudaranya menyebut dirinya hilang hingga seminggu. Saat ditemukan di keramba tempat terakhir ia mencuci piring, pakaian yang ia kenakan saja sudah tak layak pakai……

Ketika disandarkan di tempat tidurnya, karena akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, ia terkejut karena di jari manisnya terdapat cincin yang diberikan sang pangeran yang ia temui selama dirinya dinyatakan hilang itu.

Melati menyimpan cincin tersebut hingga belasan tahun. Kadang ia kenakan, kadang pula ia lepas dan ditaruh di kotak lemarinya. Sosok pria tampan setelah kejadian itu selalu hadir dalam mimpi. Hampir tiap malam. Mimpi itu seperti sungguhan, mencoba merayu Melati bahkan menarik untuk kembali ke Citarum.

Puluhan orang pintar didatangkan sanak saudaranya untuk memutuskan hubungan Melati dengan pangeran itu, namun tak kunjung membuahkan hasil. Sang pangeran masih terus hadir dalam mimpinya. Dari sekian banyak orang pintar, ada salah satu orang yang menunjuk cincin yang didapat secara ghaib itu dan memerintahkan Melati untuk membuangnya ke Sungai Citarum.

“Saya buang waktu itu pas mau Maghrib juga. Waktu saya buang itu cincin, udah sebelas tahun dari kejadian saya hilang.” Cincin itu dibuangnya, dan mulai saat itu ia tak lagi diteror oleh lelembut Citarum. Saat masih menggenggam cincin itu, Melati seperti dijauhkan dari jodohnya. Karena hingga sebelas tahun setelah kejadian itu ia belum juga mendapatkan pasangan hidup. Padahal usianya sudah mapan, sudah kepala tiga. Tapi begitu perintah membuang cincin dikerjakannya, tak lama setelah itu ia mendapatkan jodoh. Ia dipinang oleh anak orang terpandang tetangga kampungnya. “Pas saya buang itu cincin, beberapa hari kedepan saya mimpi sekali lagi. Pangeran itu ngomong ke saya, suaranya lembut banget. Kata dia, kalau kamu sudah punya anak-cucu, saya akan menjaganya dari kejauhan,” tutup Mak Melati.

(Oleh Rio Febriana)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *