Setelah Kehilangan Orang Tua, Kakak Beradik Terancam Kehilangan Tempat Tinggal

Analistiknews_Masa ramaja adalah masa yang menyenangkan bagi akan-anak yang mulai beranjak dewasa. Bersekolah, bermain dengan kawan-kawan seusia dan banyak lagi hal-hal yang menyenangkan lainnya.

Tapi tidak pada dua kakak beradik Debita(15) dan Kamil(13) warga kampung Cibeber RT 02 RW 01 Desa Simpangan Kecamatan Cikarang Utara Kabupaten Bekasi, keseharian yang serarusnya dihabiskan untuk sekolah dan bermain, kini hanya dihabiskan dengan memulung guna bertahan hidup.

Setelah meninggalnya ibu tercinta beberapa bulan lalu, mereka tidak punya siapa-siapa lagi sehingga untuk bisa melanjutkan hidup, mereka harus merelakan masa belianya untuk mencari rejeki demi sesuap nasi.

Kepahitan dan kesediaan hidup yang mereka jalani ternyata tidak sampai disitu saja, saat ini mereka harus kembali merasakan kesedihan karena tempat mereka berlindung dari teriknya matahari dan hujan akan mengalami penggusuran akibat proyek normalisasi kali. Sebab tempat mereka tinggal berada di bantaran kali.

kondisi rumah yang berada dibantaran kali

Menurut pengakuan Debita, setelah satu bulan ibunya meninggal dunia, untuk makan sehari-hari hanya mengandalkan dari hasil penjualan botol bekas yang ia kumpulkan bersama adiknya.

“Bapak sama ibu udah gak ada (meninggal dunia), kalau ibu belum lama meninggalnya, sebelumnya emang sempat sakit,”ucap Debita dikediamannya dengan nada pilu, Minggu (14/11/2021).

Untuk saat ini, Debita mengaku khawatir kehilangan tempat tinggal. Pasalnya, dia bersama warga lainnya yang memiliki tempat tinggal dibantaran kali Ciherang terancam digusur karena terkena dampak dari proyek normalisasi kali Ciherang.

“Iya waktu mamah masih ada bilangnya sih disini numpang tiap itu bayar, tapi sekarang mau digusur, kemaren dapat surat katanya mau digusur, gak tau saya mau kemana”ucap gadis belia berusia 15 tahun sambil menundukkan kepala.

Sementara itu, Adi (38) warga disekitar tempat tinggal kedua kakak beradik yatim piatu tersebut membenarkan, keduanya hidup dalam keprihatinan pasca meninggalnya sang ibu, untuk makan mereka mengandalkan hasil dari memulung botol bekas, terkadang juga dari pemberian warga.

Ia pun turut prihatin lantaran adanya rencana pengosongan lahan di bantaran kali, karena berdampak bagi kedua yatim piatu tersebut. Adi mengaku, Pemerintah Desa Simpangan telah memberikan surat himbauan agar warga yang tinggal dilahan tersebut untuk segera mengosongkan lahan hingga batas waktu tanggal 30 Nopember mendatang.

“Iya kemarin yang saya tau dari desa udah ada suratnya, warga disini harus segera mengosongkan lahan katanya kan mau dipake buat normalisasi” ungkapnya.

“Saya sudah tanyakan ke anak-anak itu, mal kalo ini digusur pada mau kemana?, ya dia bilangnya sih gimana bapak-bapak disini aja” jelas Adi menambahkan.

Menurutnya, warga tidak pernah menolak untuk dipindahkan selama proses proyek normalisasi kali Ciherang tersebut dilaksanakan, tetapi warga meminta setidaknya ada kebijakan yang sedikit bisa meringankan beban mereka untuk memindahkan tempat tinggalnya.(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *