Pembangunan Jembatan Penghubung Kp Garon Tengah, Diduga Dikerjakan Sembrono

Analistiknews_Di setiap tahun Pemerintah Kabupaten Bekasi selalu melaksanakan kegiatan pembangunan infrastruktur yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bekasi yang di gelar melaui lelang maupun penunjukan langsung.

Namun dalam hal ini diduga Pemerintah Kabupaten Bekasi tidak selektif dalam memilih mitra kerja.Kenapa? Setiap tahun Pemerintah Kabupaten Bekasi selalu menganggarkan untuk kegiatan infrastruktur dengan menghabiskan anggaran hingga miliaran rupiah namun pembangunan fisik dikabupaten Bekasi cenderung tidak bertahan lama.

Belum lama ini ramai dalam pemberitaan, terkait kegiatan Pembangunan Tanggul Penahan Tanah di Kampung Bungin yang diduga dikerjakan tidak sesuai prosedur dan sehingga pihak Komisi III DPRD Kabupaten Bekasi menilai pekerjaan tersebut gagal kontruksi.

Papan informasi kegiatan

Kali ini kembali terlihat, kegiatan pembangunan jembatan penghubung kampung Garon tengah RT 006/003 Desa Setialaksana Kecamatan Cabangbungin Kabupaten Bekasi yang saat ini sedang dilakukan pihak CV. Jufaiz Karya Graha, dengan anggaran RP 199.800.000,- diduga dikerjakan dengan sembrono atau terkesan asal-asalan.

Hasil telusur yang dilakukan Samsul Rizal Ketua DPK KNPI Cabangbungin dilokasi, terlihat Kurangnya pemadatan pada lapis pondasi agregat dan tidak adanya penahan tanah pada sisi bawah jembatan, di duga akan menyebabkan kurangnya ketahanan atau kekuatan dalam bangunan sehingga bisa menyebabkan patah apabila tanah yang digunakan untuk lapisan pondasi tersebut amblas, lebih-lebih kalau dilintasi oleh kendaraan yang memiliki bobot berat.

“Apakah pembangunan jembatan seperti itu pengerjaannya? Kalau pemadatannya kurang, tidak menutup kemungkinan itu akan patah dikala dasarnya amblas” ucap Samsul, Minggu 14/11/2021

Dia pun menambahkan, beton yang di kerjakan dengan cara manual, bisa jadi akan mengurangi mutu atau kualitas.

“Ngecornya juga disitu menggunakan manual, kita tidak tahu takaran yang diapakai antara pasir, semen dan batu krikil yang dipakai, apakah apakah sama mutunya?” Tambahnya.

Lagi-lagi, lemahnya dalam segi pengawasan dari pihak terkait membuat pihak kontraktor bekerja seakan asal-asalan, tidak melihat atau mengikuti aturan kontruksi yang dibuat oleh konsultan.

(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *