Kebebasan pers Dan Dilema Para Pencari Berita

Oleh : Samsul Rizal

Analistiknews – Kebebasan pers (freedom of the press) adalah hak perlindungan hukum bagi insan pers atas sesuatu hal yang dipublikasikan dan Kebebasan pers pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas demokrasi.

Dengan kebebasan pers, media massa dimungkinkan dapat menyampaikan beragam informasi, sehingga memperkuat dan mendukung warga negara untuk berperan di dalam demokrasi atau disebut civic empowerment.Secara konseptual, kebebasan pers bertujuan menjadikan Pemerintahan lebih bijaksana, bersih dan bebas dari Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Melalui kebebasan pers masyarakat akan dapat mengetahui berbagai peristiwa, kejadian, termasuk kinerja Pemerintahan, sehingga muncul mekanisme check and balance, kontrol terhadap kekuasaan, maupun masyarakat sendiri. Oleh sebab itu, dalam hal ini media juga dapat dikategorikan sebagai pilar keempat demokrasi. melengkapi eksekutif, legeslatif, dan yudikatif. Namun di sisi lain, Media sebagai penyedia informasi dituntut untuk menyajikan berita-berita faktual.Pada era informatika, tidak hanya faktual, berita juga dituntut untuk selalu memberikan informasi yang dapat dikonsumsi dan dicerna masyarakat luas.Akan tetapi, dalam kualitas pembuatan berita terkadang terdapat permasalahan dalam segi bidang bahasa dan sulit untuk mencari narasumber untuk dasar pemberitaan.Narasumber acap kali sulit untuk di mintai keterangan di karena merasa takut, bukan hanya itu saja biasanya yang diwawancarai menggunakan bahasa verbal dengan gramatikal yang semrawut.

Beberapa narasumber juga sering menggunakan istilah baru yang membuat teknis pembuatan berita mengalami kendala.Sebagai contoh, narasumber dengan latar belakang politik sering menggunakan kata-kata yang memutar-mutar. Dampaknya, media harus cermat dalam memilih diksi agar tidak menimbulkan makna lain yang tidak diinginkan.Selain itu, narasumber yang tidak memiliki latar belakang akademik sering pula menggunakan bahasa yang tidak jelas maknanya atau sulit untuk dimengerti pembaca.Hal ini berpengaruh pada logika bahasa yang diperlukan untuk menyaring informasi pada pembuatan berita.Bukan hanya itu saja, terkadang para pencari berita acap kali di pandang rendah atau dipandang sebelah mata bagi sebagian oknum.Bahkan seorang pencari berita dikala berkunjung untuk mewawancarai atau mencoba konfirmasi terkait pemberitaan guna mendapatkan informasi yang lebih jelas lagi, sering kali dianggap memperkeruhi suasana atau dianggap pembawa masalah. (9/9)

(red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *